Senin, 13 Oktober 2008

JANJI BERKAT UNTUK ORANG PAPUA

Siapa yang bekerja dengan jujur ditanah ini akan mendapat satu tanda heran kepada tanda heran yang lain”

I.S.Kinjne


Di dunia ini tidak ada satu manusia pun yang luput dari berkat Allah. Buktinya kita masih terus bernapas dan menikmati hidup. Kadang kematian atau pun kegagalan dalam hidup, kita anggap sebagai sebuah bencana tapi sesunggunya itu pun merupakan berkat. Mengapa ? karena semua peristiwa terjadi dalam rancangan dan kehendak Allah.

Tuhan memberikan berkat tidak hanya kepada orang pribadi tapi juga bagi sebuah komunitas hidup seperti keluarga, suku, ras dan bangsa. Takaran berkat bagi pribadi bahkan komunitas hidup pun berbeda-beda. Ada yang tinggi tapi juga rendah dan ada yang banyak tapi juga sedikit. Kita harus menerima perbedaan ini sebagai sebuah anugerah. Anugerah untuk melihat sesama bukan egois, anugerah untuk membawa damai bukan menciptakan konflik, anugerah untuk menegakkan keadilan dan perdamaian bukan untuk ketidakjujuran, anugerah untuk bekerja keras bukan bermalas-malas dan anugerah untuk menjaga keseimbangan dan keharmonisan hidup bukan merusak atau mencemari. Tapi yang lebih penting adalah anugerah harus dijadikan sebagai waktu untuk mengintropeksi diri dan komunitas hidup kita tentang karya kita di tengah carut-marutnya dunia.

Tulisan ini lahir dari diskusi bersama teman-teman dalam renungan malam saat kami di Denpasar Bali. Tulisan yang bertitik tolak dari Ulangan 7: 12-26 ini akan dikaji berdasarkan situasi orang Papua kini. Bagi kami situasi orang Papua dewasa ini sangat relevan dengan situasi orang Israel dulu yang hidup dibawah tekanan dan ketidakadilan. Situasi seperti itu tidak hanya diciptakan oleh penguasa Mesir tapi juga kompromi mereka terhadap apa yang najis bagi Allah. Dalam Firman ini ada janji berkat dan larangan-larangan yang harus dipatuhi oleh bangsa Israel tapi juga bagi orang Papua kini. Konsekuensi akibat kepatuhan adalah Allah mewujud-nyatakan perjanjianNya kepada nenek moyang bangsa Israel pada generasi berikutnya, yakni membebaskan bangsa Israel dari tangan bangsa Mesir dan menganugerahkan tanah perjanjian yang penuh dengan susu dan madu. Sehingga bagi kami situasi seperti itu akan terjadi juga bagi orang Papua ketika kita semua taat dan setia.

  • Adakah Janji Allah Kepada Nenek Moyang Orang Papua ?

Mengapa orang Papua harus beranak cucu dan bertambah banyak di tanah Papua? mengapa orang Papua bertahan hidup dan menguasai tanah Papua ? adakah janji tentang dunia baru ? Alkitab adalah kitab yang berlaku secara universal. Ia tidak dibatasi oleh ruang dan waktu sehingga ia berlaku dimana dan kepada siapa saja. Bertolak dari pernyataan ini maka dapat kita katakan bahwa beranak cucu dan bertambah banyak, bertahan hidup dan menguasai tanah Papua serta janji tentang dunia baru itu pun ada dalam peradaban hidup orang Papua. Buktinya sebagai manusia normal ada naluri seks dan keinginan untuk bertahan hidup. Siapa yang memberikan pikiran itu ya! tentu dari Allah. Jawaban atas pertanyaan ketiga akan kita temukan dalam kisah tentang Mananmakeri (Biak), Hai (Mimika), Koyeidaba (Paniai), Nabelan Kabelan (Wamena) dll. Dari semua kisah itu akan kita temukan janji akan dunia baru, dunia tanpa penderitaan, dunia tanpa kekerasan, dan dunia tanpa ketidakadilan yaitu dunia yang dilandasi oleh cinta kasih. Pertanyaannya adalah apakah dunia baru itu adalah dunia yang diimpikan orang Papua kini? Saya katakan ya! Mengapa? Karena janji tadi. Tiga pertanyaan diatas merupakan bahan renungan bagi kita orang Papua.


  • Hal-hal yang harus dipatuhi oleh orang Papua

    • Tidak beribadah kepada allah bangsa lain (ayat 16 b)

Yang dimaksud dengan “allah” bangsa lain “ideology”. Sudah hampir puluhan tahun kita dipenjara dalam ideology bangsa lain. Secara nyata maupun tidak nyata kita di paksa untuk mengikuti keinginan dan pikiran mereka. Sehingga apa yang merupakan dasar hidup kita yang awal dimusnahkan. Proses ini terjadi dalam dunia pendidikan. Orang Papua dipaksa untuk belajar dan mengetahui ideology, kehidupan social budaya, ekonomi dan politik orang lain tapi apa yang ada pada orang Papua tidak diajarakan, apalagi kepada orang lain. Hal yang lebih parah adalah orang Papua terlenah dalam situasi seperti itu. Ini akan membunuh masa depan generasi muda dan terutama merupakan tidakan kita tidak menghargai Tuhan yang telah memberikan itu kepada kita. Kita harus mempertanggung-jawabkannya.

    • Tidak takut dan gentar kepada bangsa lain (ayat 18,21)

Anda tahu mengapa bangsa Israel membutuhkan waktu yang lama untuk keluar dari tanah Mesir. Hal yang paling utama adalah karena mereka takut dan gentar. Sebenarnya perasaan itu diciptakan oleh bangsa Mesir dalam diri orang Israel. Orang Israel dikerja paksakan dan di cambuk jika tidak menuruti perintah bangsa Mesir. Hal itu telah menyebabkan banyak orang Israel yang mati. Orang Israel takut walaupun jumlah mereka lebih banyak dari jumlah orang Mesir, lebih dari itu mereka lupa kepada Allah mereka yang lebih hebat dari pada bangsa Mesir.

Kadangkalah tanpa kita sadari orang Papua pun terperosok kedalam jurang ini. Orang Papua takut bicara tentang keadilan, kebenaran dan perdamaian. Mengapa ? karena akan berhadapan dengan senjata, stigma dan juga teror. Takut dan gentar seringkali menjadi pintu untuk pembunuhan diri dan masa depan, oleh karena itu harus dibuang jauh. Takut dan gentar adalah situasi yang tidak dikehendaki oleh Allah. Takut dan gentar sering merupakan tanda ketidak setiaan kita kepada Allah yang mempunyai kuasa lebih dari kuasa-kuasa yang ada di dunia. Oleh karena itu, semua orang harus bangkit dan berani menghadapi situasi genting apa pun.

    • Membakar patung-patung allah mereka, tidak menginginkan dan mengambil bagi diri sendiri kekayaan bangsa lain (ayat 25)

Bagi kami maksud dari ayat ini adalah membakar ideology bangsa lain yang sudah berakar dalam diri kita juga menghindari kerakusan. Saatnya orang Papua lahir kembali khususnya dalam paradigma berpikir. Menghargai diri dengan apa yang ada pada kita sama dengan menghargai Tuhan yang memberikan semuanya kepada kita. Kerakusan akan membawa diri dan bangsa kita kepada jurang pemusnahan. Oleh karena itu cobalah untuk menghindari permintaan pemekaran kabupaten/kota dan propinsi. Karena ini akan menambah catatan panjang sejarah penderitaan orang Papua. Marilah kita dengan jujur dan bertanggungjawab membangun tanah dan orang Papua dengan apa yang ada pada kita. Jauhkan korupsi, kolusi dan nepotisme. Bunuhlah sifat egoisme, hedonisme, dan materialime. Kenakan pikiran “ kesejahteraanku adalah kesejahteraan bangsaku”.

    • Tidak menajiskan diri dan rumah (ayat 26)

Artinya orang Papua baik pribadi maupun keluarga harus menjaga kekudusan hidup. Menjaga kekudusan hidup berarti menghindari seks bebas, perzinahan, perselingkuhan dan kemabukan yang ujungnya akan mempertemukan kita dengan HIV/AIDS dan penghancuran rumah tangga. Janganlah kita mengadopsi kebiasaan buruk bangsa lain dan membawa itu masuk kedalam rumah kita karena itu merupakan kekejihan bagi Allah. Allah tidak akan memberkati kita jika hidup kita masih serupa dengan dunia ini.

  • Janji-janji berkat

      • Allah akan mengasihi, memberkati dan membuat kita menjadi banyak ( ayat 13 )

Tuhan tidak akan membiarkan bangsa kita punah atau habis diatas negeri yang Tuhan sendiri berikan. Ingatlah bahwa setiap bangsa telah diberikan tanah untuk berkarya dan kekayaan untuk melanjutkan hidupnya. Tanah Papua milik orang Papua dan itu telah ditetapkan Tuhan. Maka, kita tidak akan punah. Hanya jagalah diri dan keluargamu.

      • Tuhan akan memberkati orang Papua ; laki-laki maupun perempuan tidak mandul (ayat 14 )

Ini adalah janji Tuhan untuk mengembangbiakkan orang Papua agar bertambah banyak dan memenuhi tanah Papua. Namun, dewasa ini kita melihat orang Papua semakin berkurang karena kematian akibat sakit penyakit , senjata dan kamatian misterius. Kita harus merefleksi diri kita kenapa semua ini terjadi dan mencoba menemukan jalan untuk melawan kondisi ini. Kalau tidak demikian kita tidak akan mewujudkan janji Allah itu. Sadar dan melawan adalah tindakan yang positif.

      • Tuhan akan menjauhkan segala penyakit dari orang Papua ( ayat 15 )

Bicara tentang penyakit sebenarnya tidak hanya penyakit yang kita kenal seperti malaria, HIV/AIDS, TBC dan lain-lain. Tapi ada juga penyakit lain yang kita sebut penyakit social seperti kemiskinan, pengangguran, anak jalanan, mama-mama yang tidak mendapat tempat layak untuk berjualan, dll. Tuhan akan menjauhkan itu kalau kita tetap setia dan jujur dalam menaati perintah Tuhan juga dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab yang Tuhan taru di pundak kita.


Sungguh, orang Papua harus keluar dari kubangan ini. Orang Papua harus menjadi diri sendiri atau menjadi tuan diatas tanah dan negeri sendiri. Jangan lagi mau beribadah kepada keinginanan bangsa lain.



Dikembangkan oleh: Edo

Tidak ada komentar: